Sejarah dan Latar Belakang Prodi Analis Kesehatan

Sejarah

Program Studi Analis Kesehatan Tangerang berdiri sejak tahun 2011  dengan SK Menkes  No 1988 /Menkes/per/IX/2011 tanggal 29 september tentang Organisasi dan Tata Kerja Politeknik Kesehatan, dan  SK Mendiknas RI No 355/E/O/2012  tanggal 10 Oktober 2012  tentang Alih Bina Penyelengaraan Program studi pada Politeknik Kementerian Kesehatan Kepada kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Program Studi Analis Kesehatan Tangerang merupakan salah satu dari 4 Jurusan/Program studi yang ada di Politeknik Kesehatan Kemenkes Banten, yang  mengembangkan pendidikan ilmu berbasis Labolatorium Kesehatan. Pendirian Program Studi Analis Kesehatan Tangerang tersebut untuk menjawab pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai bidang yang telah merubah orientasi hidup masyarakat tidak terkecuali dalam bidang Kesehatan.

Latar Belakang

Salah satu arah pembangunan kesehatan sesuai dengan amanat Garis-garis Besar Haluan Negara tahun 1999, yaitu meningkatkan mutu Sumber Daya Manusia dan lingkungan yang saling mendukung, yang memberikan prioritas pada upaya peningkatan kualitas pendidikan.

Sesuai dengan SK Menkes nomor 130/Menkes/SK/2000, Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan mempunyai tugas menyusun rancangan kebijakan,  menyiapkan rumusan kebijakan pelaksanaan dan merumuskan kebijakan teknis, serta mengkoordinasikan pelaksanaan, bimbingan dan pengendalian penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan berdasarkan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri dan perundang-undangan yang berlaku.

Dalam menghadapi era globalisasi, dimana persaingan pasar bebas tidak dapat dihindari, sehingga kemungkinan masuknya tenaga luar negeri ke Indonesia bisa terjadi. Berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi khususnya di bidang kesehatan sangat pesat, sehingga tenaga kesehatan yang ada tidak mampu untuk bersaing dengan tenaga dari negara yang sudah maju.

Mengantisipasi permasalahan-permasalahan yang ada, pendidikan tenaga kesehatan perlu ditingkatkan mutunya, sehingga produksi yang dihasilkan akan mempunyai kualitas yang dapat diandalkan.

Untuk itu, tenaga kesehatan yang ada harus ditingkatkan baik kualitas maupun kuantitasnya, sehingga dapat membantu memecahkan permasalahan kesehatan di Indonesia yang siap berkompetisi dengan tenaga yang berasal dari luar.

Dipihak lain, industri ataupun pengguna lulusan (user) tidak hanya menginginkan lulusan yang siap kerja saja, tetapi mempunyai nilai tambah atau yang berprofesi dan kompeten di bidangnya mempunyai kualifikasi yang baik, serta profesional.

Pelayanan laboratorium kesehatan sebagai bagian dari pelayanan kesehatan, berperan memberikan dukungan baik kepada upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit, maupun kepada upaya penyembuhan dan pemulihan kesehatan.

Dalam kenyataannya, kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang baik dan bermutu semakin meningkat, sehingga harus dilakukan berbagai upaya di bidang kesehatan termasuk di bidang pelayanan laboratorium kesehatan. Untuk memenuhi kebutuhan ini, semua sarana dan tenaga yang berperan dalam pelaksanaan pelayanan laboratorium perlu ditingkatkan kualitasnya.

Dalam penyelenggaraan akreditasi Rumah Sakit dan Puskesmas, bahwa tenaga kesehatan lulusan pendidikan tenaga kesehatan jenjang pendidikan menengah setingkat SMTA antara lain tenaga analis kesehatan lulusan Sekolah Menengah Analis Kesehatan (SMAK), tidak dihitung sebagai tenaga teknis kesehatan karena tenaga kesehatan haruslah tingkat Ahli Madya (Diploma III) atau tingkat sarjana.

Kompetensi Utama :

Kompetensi utama merupakan penciri lulusan sebuah program studi. Kompetensi utama sebagai pelaksana layanan laboratorium kesehatan yang harus memahami ilmu pengetahuan yang mendasari uji laboratorium meliputi Hematologi, Kimia Klinik, Bakteriologi, Parasitologi, Imunologi Serologi, Toksikologi, Virologi, Sitohistoteknologi dan Kimia Kesehatan.

Perencanaan proses yang berkaitan dengan tupoksi di laboratorium kesehatan mencakup alur kerja, keselamatan kerja dan prosedur baku  serta mampu melaksanakan proses penyiapan speimen untuk pengujian juga merupakan kompetensi utama yang harus di miliki. Kompetensi utama sebagai pelaksana layanan laboratorium juga harus mampu melaksanakan proses penyiapan dan pemeliharaan peralatan, bahan reagensia, prosedur pemantapan mutu laboratorium pada setiap bidang  proses pengujian dan membuat laporan pengujian meliputi Hematologi, Kimia Klinik, Bakteriologi, Parasitologi, Imunologi Serologi, Toksikologi, Virologi, Sitohistoteknologi dan Kimia Kesehatan.

Selain itu seorang Analis Kesehatan harus mampu melakukan penilaian analitis tehadap mutu hasil pengujian spesimen sebelum hasil diberikan kepada pelanggan , mampu melaksanakan sistem informasi dalam pelayanan laboratorium, mampu mengambil keputusan terhadap permasalahan yang memerlukan koreksi terhadap proses, alat, spesimen, reagensia terhadap pemantapan mutu internal. Kompetensi utama sebagai penyuluh harus mampu berkomunikasi secara efektif, memotivasi klien dakam meningkatkan kesadaran pemanfaatan uji laboratorium, mampu memberikan bimbingan pembinaan teknis laboratorium, dan mampu meningkatkan perilaku hidup sehat di masyarakat. Kompetensi utama sebagai peneliti harus mamu melaksanakan pengambilan, pengolahan dan penyajian hasil penelitian serta mampu membuat Karya Tulis Ilmiah.

Kompetensi Pendukung :

Kompetensi pendukung sebagai pelaksana layanan laboratorium kesehatan antara lain harus mampu berbahasa inggris secara aktif maupun pasif, mengoperasikan aplikasi komputer yang terkait dengan bidang laboratorium kesehatan, menerapkan prinsip kesehatan dan keselamatan kerja, menangani permasalahan yang timbul pada waktu pengambilan spesimen, melaksanakan teknik plebotomi, menerapkan teknologi informasi dalam laboratorium kesehatan, mengelola kewirausahaan di bidang laboratorium kesehatan. Kompetensi pendukung sebagai penyuluh dan peneliti harus mampu berprilaku sehat, bekerjasama dalam tim, standar pelayanan minimal di laboratorium dan memahami metodologi penelitian kesehatan sebagai peneliti.

 

Unggul | Profesional | Berkarakter